Evaluasi Masa Studi Dan Kelulusan Mahasiswa Psikologi

PENGUMUMAN

Menindaklanjuti Peraturan Akademik Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST),  tahun 2014-2019, yang diterbitkan tahun 2016. Tertulis di BAB V EVALUASI MASA STUDI, Pasal 18 Program Sarjana, masa studi paling lama untuk mahasiswa program sarjana adalah 14 semester (7 tahun). Tertulis di BAB VI KELULUSAN, Pasal 20, Mahasiswa program sarjana dinyatakan lulus … kecukupan memiliki Indek Prestasi Kumulatif (IPK) ≥ 2,50, nilai D maksimal 10%, dan tanpa nilai E. Dimohon para mahasiswa yang namanya tercantum di bawah ini, sesegera mungkin menemui kaprodi.

download file daftar nama mahasiswa

Sarasehan Malem Selasa Kliwon

Senin, 9 April 2018. Pukul 19.00. Bertempat di Selasar Fak Psikologi, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) jalan Kusumanegara.

Jauh sebelum Albert Camus mempublikasikan esai L’Envers et L’Endroit (1937) atau mati dalam jiwa, Ranggawarsita telah menyuarakan ungkapan mati sajroning ngaurip (mati di dalam hidup) melalui Serat Kalatida. Hal ini menunjukkan adanya keselarasan antara pemikiran Ranggawarsita di Jawa dengan pemikiran eksistensialisme di Eropa yang justru tumbuh belakangan. Pandangan Ranggawarsita tentang humanisasi dan moralitas kehidupan, telah ‘diikuti’ jejaknya oleh bangsa Eropa. Sebelum Kierkegaard, Jaspers, Sartre, Camus, menyuarakan moralitas kehidupan, Ranggawarsita telah memprotes kehidupan yang saat itu tengah diliputi kekeruhan moral dan spiritual serta nilai-nilai keagamaan yang tidak terhayati lagi.

Serat Kalatida dipilih karena dinilai lebih menarik dalam mengambarkan pandangan humanisme Ranggawarsita serta adanya analisis Sang Pujangga mengenai kondisi jamannya yang penuh keragu-raguan. Dalam Serat Kalatida Ranggawarsita melakukan protes jaman dan memprotes kehidupan yang memporakporandakan sendi-sendi humanitas kehidupan hingga akhirnya mencetuskan konsepsi jaman edan (insanity period). Hal yang menarik dari Serat Kalatida adalah bahwa serat ini menggambarkan penderitaan, dan juga ajakan untuk memaknai penderitaan tersebut, seperti yang kemudian disuarakan para pemikir eksistensialis.

Konsepsi penderitaan dalam kalatida senantiasa berkaitan dengan penderitaan eksistensial manusia, maka upaya pencapaian terhadap makna atas penderitaan tersebut merupakan upaya menuju pemenuhan hakekat dari eksistensi manusia. Oleh karena itu, upaya pencapaian terhadap makna penderitaan yang terdapat dalam teks Serat Kalatida ini, sudah sepantasnya tidak hanya diletakkan sebagai upaya untuk keluar dari penderitaan saja. Tetapi lebih dari itu, pencapaian yang bermuara pada mati sajroning ngaurip ini, harus juga dipahami sebagai sebuah perjalanan yang semestinya ditempuh untuk mencapai eksistensi terdalam dari manusia.

Baik tahapan dialektika eksistensialisme Kierkegaard maupun tingkatan cinta Jalaluddin Rumi, sama-sama menunjukkan adanya tiga tingkatan eksistensi manusia, yaitu estetis, etis dan religius atau mistis. Berkaca pada kedua pandangan teoretis tersebut, ternyata apa yang ditemukan dari analisis teks Serat Kalatida mengenai tiga konsep pokoknya, yaitu penderitaan eksistensial dalam kalatida, konsep makna penderitaan etis, hingga makna penderitaan mistis dalam mati sajroning ngaurip, sejalan dengan tahapan-tahapan perjalanan eksistensi manusia tersebut.

Membincang Ranggawarsita, tentu bukan saja berkaitan dengan tema-tema eksistensial dan penderitaan semata. Banyak pokok lain dari pemikiran Ranggawarsita yang layak dikaji bersama untuk menjelaskan kenyataan dan kasunyatan hari ini. Diskusi berseri “ngaji serat kalatidha” ini sedikit banyak mencoba untuk mendedah pemikiran Ranggawarsita sebagai sumber keilmuan nuswantara dan bagaimana bekerjanya dalam ruang batin sosial masyarakat kita. Jika Selo monggo hadir dalam sarasehan Malem Selasa Kliwon ini. Sarasehan ini sepenuhnya digawangi oleh teman-teman mahasiswa psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, sebagai upaya untuk menggairahkan kembali tradisi intelektual Tamansiswa sebagaimana digerakkan oleh Ki Hadjar Dewantara, Juga Ki Ageng Suryomentaram. Sumonggo.

Seminar Nasional (Narrative Therapy)

Sabtu, 9 September 2017 jam 08.00-12.00 WIB bertempat di
Dewantara Convention Room Kampus Kebangsaan Universitas Sarjanawiyata
Tamansiswa. Seminar Nasional dengan tema Narrative Therapy, pembicara Dr.(c).Setiawati Intan Savitri, S.P. M.Si (dosen fakultas psikologi Mercubuana Jakarta).

Narrative Therapy merupakan salah satu teknik terapi untuk mengelola emosi-emosi negatif seperti perasaan sedih, cemas, dan marah. Ini merupakan salah satu cara dalam dunia psikologi untuk membantu klien atau individu untuk mengekspresikan perasaan yang sedang dialami dengan cara yang lebih adaptif sekaligus kreatif, cara ini juga dapat meningkatkan kemampuan regulasi diri. Individu yang mampu meregulasi diri secara perlahan bisa mengontrol emosi dengan baik dan melakukan refleksi terhadap hal-hal sulit yang sedang dialami oleh individu tersebut.

Teknik terapi dengan cara menulis ekspresif juga dapat meningkatkan imunitas individu,
meningkatkan respon antibody yang mana secara tidak langsung individu yang senang dan mau menuangkan masalah dengan cara menulis secara psikologis mereka akan lebih sehat dan tentu kesehatan yang secara fisik akan mendukung dikemudian hari.

Cara ini juga dapat meningkatkan kemampuan secara kognisi dengan menuangkan ide-ide
kreatif pada diri seseorang. Harapan kami dengan terwujudnya pelatihan ini bisa menjadi
solusi untuk membantu individu dalam memecahkan masalah dengan cara yang lebih positif.

Maksud diadakannya kegiatan ini adalah memberikan pelatihan menulis ekspresif untuk menyembuhkan juga memperkenalkan cara lain untuk melepaskan emosi negative ke dalam tulisan. Tujuan yang ingin dicapai dari adanya Seminar narrative therapy adalah bagaimana mengekspresikan sebuah masalah dengan cara kreatif, bagaimana cara teknik menulis untuk meredakan emosi negatif dalam diri serta meningkatkan kesehatan secara psikologi dan fisiologis.

PIK-M

Talkshow dan Pameran Karya Kreativitas Mahasiswa
PIK-M (Pusat Informasi Konseling Mahasiswa) IMPACT Dewantara
Berkolaborasi dengan Teman-teman Disablilitas, dengan tema “Cipta, Rasa, dan Karsa Dewantara Muda Membangun Karya Tanpa Strata”

 

 

 

 

 

PIK-M (Pusat Informasi Konseling Mahasiswa) IMPACT Dewantara baru saja berhasil mengadakan acara Talkshow dan Pameran Karya Kreativitas Mahasiswa Berkolaborasi dengan Teman-teman Disablilitas, dengan tema “Cipta, Rasa, dan Karsa Dewantara Muda Membangun Karya Tanpa Strata”. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 29 April 2017, di mulai pkl 09.00 WIB, yang bertempat di Ruang Ki Sarino Kampus Pusat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Sebagai pembuka acara, PIK-M IMPCAT Dewantara menghadirkan perwakilan dari Pemerintah Kota Yogyakarta, Ir. H. Aman Yuriadijaya, MM., selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintahan Kota Yogyakarta. Selain itu, acara ini dihadiri oleh perwakilan BkkbN DIY, LP3M UST, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, civitas akademika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), teman-teman PIK-M se-DIY, serta beberapa penyandang disabilitas sebagai tamu undangan dan pengisi acara. Acara ini bertujuan untuk membuka pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas agar tidak dipandang sebelah mata dan diberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya, menambah wawasan dan kepekaan mahasiswa sebagai agen perubahan dalam meningkatkan kepedulian terhadap sesama terutama penyandang disabilitas, sekaligus dalam rangka memeriahkan Dies Natalis Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

Acara Talkshow ini dinarasumberi oleh Bapak Abdul Rahim M.Pd selaku Dosen ABK di UST yang juga merupakan penyandang disabilitas. Tidak hanya itu, pada acara ini, PIK-M IMPACT Dewantara juga mengundang Laksamayshita Khanza L.C sebagai penyandang disabilitas yang berkuliah di UST jurusan Seni Rupa yang memiliki prestasi yang luar biasa yaitu seorang pelukis muda yang menjuarai perlombaan di Australia. Laksamayshita Khanza L.C  atau sering disapa Sita hadir bersama ibunya yaitu Sri Hartaningsih atau lebih dikenal dengan Harta Nining Wijaya yang merupakan salah satu seorang Jurnalistik dari Pusat Informasi Hukum dan Difabel Indonesia (Solider). Disamping itu, Sita juga membawa penerjemah bahasa untuk bisu tuli (transleter) saat talkshow berlangsung untuk memperlancar kelangsungan acara.

Talkshow yang diadakan mengangkat tema Membangun Paradigma Pendidikan Inklusif. Talkshow ini membahas apa, dan bagaimana pendidikan inklusif tersebut khususnya bagi kita untuk diberikan kepada teman-teman yang menyandang disabilitas. Talkshow ini juga menceritakan sebagian pengalaman Sita untuk bisa menggapai prestasi yang luar biasa. Tidak hanya itu, talkhsow ini juga membahas pengalaman ibu dari Laksamayshita Khanza L. C yang merawat, mendidik, dan membimbingnya sehingga menjadi anak yang berprestasi, dimana pembahasan ini merupakan pembahasan yang sangat emosional dan menyentuh. Disisi lain saat talkshow berlangsung, Sita berkalborasi bersama Fasma yang bukan penyandang disabilitas, dimana mereka melukis bersama-sama disatu kanvas secara langsung. Hal ini membuktikan bahwa penyandang disabilitas dapat bekerja sama dengan kita yang bukan penyandang disabilitas dalam  menghasilkan suatu karya. Dan ini tentunya merupakan suatu momen yang luar biasa dan patut diapresiasi. Selain talkshow, acara ini juga menampilkan pameran karya-karya lukisan dari Sita dan teman-teman UST lainnya. Tidak hanya itu, acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan Sanggar Tari dari PGSD, penampilan band dari Gari yaitu penyandang disabilitias (blind atau buta) dapat bermain drumb dan membawakan beberapa lagu, serta penampilan dari Teater Trisula.

Launching Jurnal Sosiohumaniora dan Science Tech

Jurnal 2

Kamis (20/10) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta mengadakan kegiatan Launching Jurnal yang diberi tema “Launching Jurnal Sosiohumaniora dan Science Tech” di ruang Ki Sarino Mangunpranoto Kampus Pusat UST Yogyakarta. Dan dihadiri oleh Pimpinan Yayasan UST, Rektor UST beserta Wakil Rektor, beserta Dekan dan Kepala Program Studi. Continue reading “Launching Jurnal Sosiohumaniora dan Science Tech”

Teori Kepribadian Sigmund Freud

Sigmund_FreudBiografi Sigmund Freud

Bapak Psikoanalisis Sigmund Freud lahir di Moravia, 6 mei 1856 dan meninggal di London, 23 september 1939 berasal dari keluarga Yahudi.

Tahun 1873-1881 masuk Fakultas Kedokteran Universitas Wina pada spesialisasi dokter ahli syaraf dan penyakit jiwa (psikiatri).
Pada tahun 1894 Freud belajar terapi histeri pada Jean Caharcot di Paris.
Tahun 1895 ia kembali ke Wina bekerja sama dengan Dr. Joseph Breuer, dengan metode asosiasi bebas.
Tahun 1895 Freud bersama Breuer menulis tentang kasus-kasus histeri.
Tahun 1902 ia membentuk kelompok psikologi di Wina.
Tahun 1908 Freud diundang oleh George Stanley Hall ke USA dan memberi ceramah-ceramah pada pertemuan-pertemuan Dies Natalis Universitas Clark. Freud menjadi terkenal di seluruh dunia.
Tahun 1909 Freud digabungi oleh Alfred Adler dan Carl Gustav Jung.
Tahun 1923 Freud kena penyakit kanker rahang dan pernah dioperasi sampai 30 kali. Tahun 1928 Nazi berkuasa di Austria, Freud menyingkir ke Inggris dan meninggal dunia di London 1939. Continue reading “Teori Kepribadian Sigmund Freud”