Pelepasan Wisuda Periode I 2018/2019

Senin, 29 oktober 2018, pukul 15.00 Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta melaksanakan acara Pelepasan Wisuda dengan tema “Dewantara Muda Yang Inspiratif Unggul Inovatif Dan Berjiwa Merdeka”. Acara bertempat di Goebog Resto yang beralamat di jalan Wonosari Km 1, Banguntapan, Yogyakarta. Sebagai pembuka acara di isi dengan akustik oleh Langlang Buana dan rekan yang merupakan salah satu mahasiswa Psikologi UST. Acara pelepasan ini dihadiri oleh Dekan, Wadek, Kaprodi, para Dosen, staf Tata Usaha Fakultas Psikologi UST, serta 40 calon wisudawan/i Fakultas Psikologi UST. Setelah penampilan oleh Langlang Buana, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Tamansiswa, seta pemberian hadiah kepada wisudawati terbaik dan naskah terbaik serta pidato perwakilan wali wisudawan/i.

Fakultas Psikologi UST menjalin kerjasama dengan berbagai instansi

Dalam rangka mengembangkan hubungan dengan pihak luar, Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) menjalin kerjasama dengan berbagai instansi. Diawali dengan acara penandatanganan Kesepakatan Kemitraan Dekan Fakultas Psikologi UST didampingi oleh Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Kepala Program Studi Psikologi menandatangani kerjasama dengan SpinMotion di Ruang Sidang Fakultas Psikologi UST, Rabu (25/7)

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) didampingi oleh Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Kepala Program Studi Psikologi menandatangani kerjasama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana (PKBI) DIY di Ruang Sidang Fakultas Psikologi UST.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) didampingi oleh Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Kepala Program Studi Psikologi dengan LSM Kebaya di Ruang Sidang Fakultas Psikologi UST.

Mahasiswa UST Gelar Seminar Psikologi Kebudayaan Jawa

Majelis Mahasiswa Fakultas (MMF) Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) mengadakan seminar nasional. Mereka mengambil tema Kawruh Jiwa Suryomentaraman dan Tradisi Keilmuan Psikologi Nusantara.

Ketua Panitia acara, Penta Sakti mengungkapkan tema psikologi kebudayaan saat ini masih jarang diangkat, karena kebanyakan seminar lebih memilih mengangkat tema industri. Ia menyadari sebagai bagian dari UST yang menjadi sokoguru kebudayaan, perlu ikut menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap kajian tradisi keilmuan nusantara.

Seminar ini akan menghadirkan dua narasumber yakni akademisi UGM Prof. Koentjoro Soeparno dan budayawan Ki Prasetyo Atmosutidjo, serta moderator Susilo Nugroho.

Seminar akan digelar Senin (29/10/2018) di Ki Hajar Dewantara Convention Center, Kampus Pusat UST, Jalan Kusumanegara 157 Jogja. Panitia akan membatasi peserta seminar sebanyak 150 orang. Kontribusi untuk peserta yakni pelajar dan mahasiswa Rp50.000 sedangkan umum Rp70.000.

di kutip dari :
Harianjogja.com

Pemilihan Duta Mahasiswa Generasi Berencana (GenRe) UST

Dra. Indriyati EP, M.Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi UST, membuka acara kegiatan Pemilihan Duta Mahasiswa Generasi Berencana (GenRe) yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (P-IKM) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) kegiatan Pemilihan Duta Mahasiswa Generasi Berencana (GenRe) yang bertempat di ruang Ki Sarino Mangunpranoto, Kampus Pusat UST. adapun kegiatan ini adalah untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan ceria.

“Generasi cerdas secara intelektual, sehat jasmani-rohani menyambut masa depan dengan keceriaan berbekal hard skill dan soft skill”, ujar Dekan Psikologi. adapun Galang Rambu Anarki selaku Ketua UKM P-IKM dan Kris Diyanto selaku Ketua Panitia mengatakan mahasiswa sebelum masuk final terlebih dahulu dikarantina, diberikan penajaman wawasan kependudukan, pendidikan, nasionalisme, konseling, dan bahasa isyarat. Terpilihlah Sabinus YS Pradipta dan Hanifah Nurul sebagai Duta GenRe, Prayudha-Nabila Fauzia sebagai Duta Intelegensia, Saeful-Mela Oktavianingrum sebagai Duta Dewantara, serta Farij Nabila-Siti Fatimah sebagai Duta Juara Favorit.

Evaluasi Masa Studi Dan Kelulusan Mahasiswa Psikologi

PENGUMUMAN

Menindaklanjuti Peraturan Akademik Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST),  tahun 2014-2019, yang diterbitkan tahun 2016. Tertulis di BAB V EVALUASI MASA STUDI, Pasal 18 Program Sarjana, masa studi paling lama untuk mahasiswa program sarjana adalah 14 semester (7 tahun). Tertulis di BAB VI KELULUSAN, Pasal 20, Mahasiswa program sarjana dinyatakan lulus … kecukupan memiliki Indek Prestasi Kumulatif (IPK) ≥ 2,50, nilai D maksimal 10%, dan tanpa nilai E. Dimohon para mahasiswa yang namanya tercantum di bawah ini, sesegera mungkin menemui kaprodi.

download file daftar nama mahasiswa

Sarasehan Malem Selasa Kliwon

Senin, 9 April 2018. Pukul 19.00. Bertempat di Selasar Fak Psikologi, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) jalan Kusumanegara.

Jauh sebelum Albert Camus mempublikasikan esai L’Envers et L’Endroit (1937) atau mati dalam jiwa, Ranggawarsita telah menyuarakan ungkapan mati sajroning ngaurip (mati di dalam hidup) melalui Serat Kalatida. Hal ini menunjukkan adanya keselarasan antara pemikiran Ranggawarsita di Jawa dengan pemikiran eksistensialisme di Eropa yang justru tumbuh belakangan. Pandangan Ranggawarsita tentang humanisasi dan moralitas kehidupan, telah ‘diikuti’ jejaknya oleh bangsa Eropa. Sebelum Kierkegaard, Jaspers, Sartre, Camus, menyuarakan moralitas kehidupan, Ranggawarsita telah memprotes kehidupan yang saat itu tengah diliputi kekeruhan moral dan spiritual serta nilai-nilai keagamaan yang tidak terhayati lagi.

Serat Kalatida dipilih karena dinilai lebih menarik dalam mengambarkan pandangan humanisme Ranggawarsita serta adanya analisis Sang Pujangga mengenai kondisi jamannya yang penuh keragu-raguan. Dalam Serat Kalatida Ranggawarsita melakukan protes jaman dan memprotes kehidupan yang memporakporandakan sendi-sendi humanitas kehidupan hingga akhirnya mencetuskan konsepsi jaman edan (insanity period). Hal yang menarik dari Serat Kalatida adalah bahwa serat ini menggambarkan penderitaan, dan juga ajakan untuk memaknai penderitaan tersebut, seperti yang kemudian disuarakan para pemikir eksistensialis.

Konsepsi penderitaan dalam kalatida senantiasa berkaitan dengan penderitaan eksistensial manusia, maka upaya pencapaian terhadap makna atas penderitaan tersebut merupakan upaya menuju pemenuhan hakekat dari eksistensi manusia. Oleh karena itu, upaya pencapaian terhadap makna penderitaan yang terdapat dalam teks Serat Kalatida ini, sudah sepantasnya tidak hanya diletakkan sebagai upaya untuk keluar dari penderitaan saja. Tetapi lebih dari itu, pencapaian yang bermuara pada mati sajroning ngaurip ini, harus juga dipahami sebagai sebuah perjalanan yang semestinya ditempuh untuk mencapai eksistensi terdalam dari manusia.

Baik tahapan dialektika eksistensialisme Kierkegaard maupun tingkatan cinta Jalaluddin Rumi, sama-sama menunjukkan adanya tiga tingkatan eksistensi manusia, yaitu estetis, etis dan religius atau mistis. Berkaca pada kedua pandangan teoretis tersebut, ternyata apa yang ditemukan dari analisis teks Serat Kalatida mengenai tiga konsep pokoknya, yaitu penderitaan eksistensial dalam kalatida, konsep makna penderitaan etis, hingga makna penderitaan mistis dalam mati sajroning ngaurip, sejalan dengan tahapan-tahapan perjalanan eksistensi manusia tersebut.

Membincang Ranggawarsita, tentu bukan saja berkaitan dengan tema-tema eksistensial dan penderitaan semata. Banyak pokok lain dari pemikiran Ranggawarsita yang layak dikaji bersama untuk menjelaskan kenyataan dan kasunyatan hari ini. Diskusi berseri “ngaji serat kalatidha” ini sedikit banyak mencoba untuk mendedah pemikiran Ranggawarsita sebagai sumber keilmuan nuswantara dan bagaimana bekerjanya dalam ruang batin sosial masyarakat kita. Jika Selo monggo hadir dalam sarasehan Malem Selasa Kliwon ini. Sarasehan ini sepenuhnya digawangi oleh teman-teman mahasiswa psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, sebagai upaya untuk menggairahkan kembali tradisi intelektual Tamansiswa sebagaimana digerakkan oleh Ki Hadjar Dewantara, Juga Ki Ageng Suryomentaram. Sumonggo.