Sarasehan Malem Selasa Kliwon

Senin, 9 April 2018. Pukul 19.00. Bertempat di Selasar Fak Psikologi, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) jalan Kusumanegara.

Jauh sebelum Albert Camus mempublikasikan esai L’Envers et L’Endroit (1937) atau mati dalam jiwa, Ranggawarsita telah menyuarakan ungkapan mati sajroning ngaurip (mati di dalam hidup) melalui Serat Kalatida. Hal ini menunjukkan adanya keselarasan antara pemikiran Ranggawarsita di Jawa dengan pemikiran eksistensialisme di Eropa yang justru tumbuh belakangan. Pandangan Ranggawarsita tentang humanisasi dan moralitas kehidupan, telah ‘diikuti’ jejaknya oleh bangsa Eropa. Sebelum Kierkegaard, Jaspers, Sartre, Camus, menyuarakan moralitas kehidupan, Ranggawarsita telah memprotes kehidupan yang saat itu tengah diliputi kekeruhan moral dan spiritual serta nilai-nilai keagamaan yang tidak terhayati lagi.

Serat Kalatida dipilih karena dinilai lebih menarik dalam mengambarkan pandangan humanisme Ranggawarsita serta adanya analisis Sang Pujangga mengenai kondisi jamannya yang penuh keragu-raguan. Dalam Serat Kalatida Ranggawarsita melakukan protes jaman dan memprotes kehidupan yang memporakporandakan sendi-sendi humanitas kehidupan hingga akhirnya mencetuskan konsepsi jaman edan (insanity period). Hal yang menarik dari Serat Kalatida adalah bahwa serat ini menggambarkan penderitaan, dan juga ajakan untuk memaknai penderitaan tersebut, seperti yang kemudian disuarakan para pemikir eksistensialis.

Konsepsi penderitaan dalam kalatida senantiasa berkaitan dengan penderitaan eksistensial manusia, maka upaya pencapaian terhadap makna atas penderitaan tersebut merupakan upaya menuju pemenuhan hakekat dari eksistensi manusia. Oleh karena itu, upaya pencapaian terhadap makna penderitaan yang terdapat dalam teks Serat Kalatida ini, sudah sepantasnya tidak hanya diletakkan sebagai upaya untuk keluar dari penderitaan saja. Tetapi lebih dari itu, pencapaian yang bermuara pada mati sajroning ngaurip ini, harus juga dipahami sebagai sebuah perjalanan yang semestinya ditempuh untuk mencapai eksistensi terdalam dari manusia.

Baik tahapan dialektika eksistensialisme Kierkegaard maupun tingkatan cinta Jalaluddin Rumi, sama-sama menunjukkan adanya tiga tingkatan eksistensi manusia, yaitu estetis, etis dan religius atau mistis. Berkaca pada kedua pandangan teoretis tersebut, ternyata apa yang ditemukan dari analisis teks Serat Kalatida mengenai tiga konsep pokoknya, yaitu penderitaan eksistensial dalam kalatida, konsep makna penderitaan etis, hingga makna penderitaan mistis dalam mati sajroning ngaurip, sejalan dengan tahapan-tahapan perjalanan eksistensi manusia tersebut.

Membincang Ranggawarsita, tentu bukan saja berkaitan dengan tema-tema eksistensial dan penderitaan semata. Banyak pokok lain dari pemikiran Ranggawarsita yang layak dikaji bersama untuk menjelaskan kenyataan dan kasunyatan hari ini. Diskusi berseri “ngaji serat kalatidha” ini sedikit banyak mencoba untuk mendedah pemikiran Ranggawarsita sebagai sumber keilmuan nuswantara dan bagaimana bekerjanya dalam ruang batin sosial masyarakat kita. Jika Selo monggo hadir dalam sarasehan Malem Selasa Kliwon ini. Sarasehan ini sepenuhnya digawangi oleh teman-teman mahasiswa psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, sebagai upaya untuk menggairahkan kembali tradisi intelektual Tamansiswa sebagaimana digerakkan oleh Ki Hadjar Dewantara, Juga Ki Ageng Suryomentaram. Sumonggo.